(catatan maret OmHiro) Februari makin menua dan dia akhiri tanpa banyak keriuhan. Pucuk maret mulai tumbuh dengan subur, dan maret sebagai bulan yang masuk diam-diam dan seperti sungkan. Setidaknya itu yang dia rasakan. Tunas-tunas muda mulai muncul seperti jamur dimusim hujan. Hadiah berupa kado yang sangat istimewah sudah disiapkan untuk diberikan pada saat hari ulang tahunnya. Dia tak sadar kalau maret meyeretnya makin jauh dan mulai rapuh. Belum lagi usianya yang masih sangat muda, bertanya kabar yang sebelumnya terasa seperti basa-basi dan situasi pandemi menjadi punya arti, mendalam dan membawa banyak konsekuensi. Salsa gadis belia yang pintar dan cerdas, akan meyelesaikan studinya bulan depan di salah satu sekolah terkenal di ibukota. Pagi ini ketika ia hendak kesekolah, gerimis turun seperti tergesa-gesa dan tak lama gerimis pun sirna...
Apa yang dirindukan dari sesuatu tentang hujan, Rindu, Rindu itu abstrak. aroma hujan yang sejuk sekali ketika dia sudah basahi apa yang ada dibumi Suasananya bahkan beda Kita akan melihat dua hal yang kontras, Yaitu ada daun yang jatuh tergeletak di saat yang sama ada pucuk yang sedang menyapa. Dan jika tidak sengaja kamu kehujanan itu doa dari seseorang yang terkabulkan. Karena ia sedang merubah diri menjadi hujan agar dapat menyetuh dirimu sebabasnya Walau begitu basahlah secukupnya. Bila terlalu lama kau akan sakit. Demikianpun rindu. Jika tidak dibalas dia akan membuatmu gila dan bahkan membuatmu terpuruk. Hujan itu datang seakan seberkas rindu yang akan megatakan betapa hati menunggu dan kisah yang tak pernah ada habisnya. Dia memelukku lalu menangis. Dalam pelukanku ia berkata aku benci hujan. Hujan menyeretku ke masa lalu. Kubiarkan dia menangis. Sesaat setelah ia tersenggal, ku raih kedua pipinya....