Langsung ke konten utama

Postingan

Ulang tahun Salsa dan pandemi yang tak kunjung usai

                    (catatan maret OmHiro)       Februari makin menua dan dia akhiri tanpa banyak keriuhan. Pucuk maret mulai tumbuh dengan subur, dan maret sebagai bulan yang masuk diam-diam dan seperti sungkan. Setidaknya itu yang dia rasakan. Tunas-tunas muda mulai muncul seperti jamur dimusim hujan. Hadiah berupa kado yang sangat istimewah sudah disiapkan untuk diberikan pada saat hari ulang tahunnya. Dia tak sadar kalau maret meyeretnya makin jauh dan mulai rapuh. Belum lagi usianya yang masih sangat muda, bertanya kabar yang sebelumnya terasa seperti basa-basi dan situasi pandemi menjadi punya arti, mendalam dan membawa banyak konsekuensi. Salsa gadis belia yang pintar dan cerdas, akan meyelesaikan studinya bulan depan di salah satu sekolah terkenal di ibukota.         Pagi ini ketika ia hendak kesekolah, gerimis turun seperti tergesa-gesa dan tak lama gerimis pun sirna...
Postingan terbaru

Sajak hujan dan kamu I

  Apa yang dirindukan dari sesuatu tentang hujan, Rindu, Rindu itu abstrak. aroma hujan yang sejuk sekali ketika dia sudah basahi apa yang ada dibumi Suasananya bahkan beda Kita akan melihat dua hal yang kontras, Yaitu ada daun yang jatuh tergeletak di saat yang sama ada pucuk yang sedang menyapa. Dan jika tidak sengaja kamu kehujanan itu doa dari seseorang yang terkabulkan.  Karena ia sedang merubah diri menjadi hujan agar dapat menyetuh dirimu sebabasnya  Walau begitu basahlah secukupnya.  Bila terlalu lama kau akan sakit.  Demikianpun rindu.  Jika tidak dibalas dia akan membuatmu gila dan bahkan membuatmu terpuruk.   Hujan itu datang seakan seberkas rindu yang akan megatakan  betapa hati  menunggu dan kisah yang tak pernah ada habisnya. Dia memelukku lalu menangis. Dalam pelukanku ia berkata aku benci hujan.  Hujan menyeretku ke masa lalu.  Kubiarkan dia menangis.  Sesaat setelah ia tersenggal, ku raih kedua pipinya....

DONGENG TENGAH MALAM

   "Malam gelap hujan deras dingin menusuk tulang Senyum ibu membias terpancar kesudut sudut istana Dari kaki hingga kepala kami gemetar dengan irama tak tentu  Dengan Nada lembut dan halus dongeng  pertama dimulai"                 "   KEKASIH GELAPKU" Waktu terus berlalu sementara kau tak pernah merayu Menuai inginku dan mencumbui masa lalu tanpa ragu  Kau nampak pilu dan malu saat kita bertemu di ruang rindu Gumamku, begitu caramu bercinta tanpa berpura pura lugu Dua minggu kemudian kami bercinta lagi ditengah wabah dengan rama  Menghabisi waktu dengan teliti agar tidak tertangkap basah Kini kami jadikan rutinitas untuk segala hasrat dan cinta yang membabibuta  untuk surat cinta yang ditulis diam diam mohon dibaca, lalu kotak sampah. Sudah lama kita bercinta hingga anak cucu menelan derita  Rupanya negeri kita sedang berduka, budak istana kehilangan tahta. Sementara penguasa sibuk bermain drama...

Desember kelabu

       " Enu padamu kusapa seribu tahu" Detik waktu membujukku perlahan Mengalir lembut sepanjang malam  Dari paras hingga nafas alam  Kita larut dalam waktu dan mimpi kelam Hujan sore basahi sudut taman kota  Senyum lembut menyapa doa Dan kita sibuk dengan kata penuh dosa Kapan kita bersua memahat kata yang patah Kain songke dan manis senyum Membungkus rindu yang lama bersemayam Dari kata hingga air mata yang kita sulam Semoga budaya cinta tak mati di malam kelam Manis puisi bergemah menggema seisi kota Selimuti hati dan tubuh yang tak bernoda Biarkan kita berdarah pada budaya Asal jangan menyerah pada mereka. Dari metafora hingga hiperbola utuh Kita bersetubuh dalam rahim tungku  Menyelam malam dingin dan kita yang ingin Satu selimut kita bercinta hingga tua... #Enu dan lipa Songke

Sajak cinta yang patah

  _Sajak yang diacak_       CINTA DISEPERTIGA MALAM Entah harus mulai dari mana  Mereka sesuatu yang pernah ada  Bait bait indah bermadah menggema  Di selah selah kata mutiara yang patah menyisahkan luka Menyisir setapak jalan penuh dosa  Doa-doa menyapa semesta raya  Berawal dari kata ragu hingga napas malu-malu Kau asuh, kau rangkul degan pelukan paling hangat Aroma dada dan wangi rambut tanda kasih tak pernah usai Kini oktober semakin menua menyisahkan cerita Tentang petua dan doa-doa kecil di penghujung malam buta   biarkan aku memeluk erat tubuhmu dalam  bayang-bayang semu sekedar melepas rindu tentang kita yang dulu bersembah pilu menyapa seribu tahu. Disepertiga malam kelam tak berbintang kau datang memberi terang Hingga mawar bermekaran memberikan aroma....cinta pada tanah dan nisan yang kian memudar.... Merpati merpati bernyanyi terbang melayang ke sudut sudut kota Ada pesan tentang kabarmu yang kaku diujung kalbu Hing...

Kamu Dan Halu yang kaku

         AKU SI PEMULUNG RINDU Gadisku terselip fotomu  Dihalaman tengah buku harianku Seperti kepakan sayap merpati istana  Begitulah jantungku bedetak menembusi dada Kau tak pernah menyimpulkan waktu untuk kita bersua  Mengobati luka saat rindu menyiksa   Sementara  aku masih menyimpan sejuta doa  Untuk  malam panjangmu biarkan kita bersua dalam dimensi rasa Maafkan pagiku yang penuh lugu dan candu  Atas segala rindu aku mengadu  Pada waktu yang selalu menghujamku  Kenangmu abadi  sepanajang doa malamku  tak banyak kata frasa ataupun sejuta bunga Pucuk pucuk cemara jingga yang semakin menua Takan pernah gugur menyisahan aroma rasa   Hanya esa dalam doa seemoga yang kuasa kita bersua Mencari rupa dalam doa sepanjang malam  Mengumpulkan kenangan yang berserakan sepanjang malam Rinduku sudah terisi penuh atas sejumput harap yang kau dekap Nyatanya Kau ...
                           Surat untuk Tuan Muda               ------------------------------------- Menghitung kenangan yang jatuh Layaknya menghitung puntung pada asbak kota Menyisahkan bau bisingan, polusi, ambisi  seperti sampah jalanan aku kelaparan di negeriku sendiri kamu terlalu sibuk bermain politik hingga lupa mendidik revolusi kunanti sementara kau sibuk goyang itik bunyi senjata terus menukik  lihatlah ditengah kota air mata bercampur dara, derita bunyi musik ditengah istana terus mengusik bayi bayi malang meringkik  adakah nasi sisa di istana sekedar menutup cerita dukaku aku terus memanjakan diri kapan kau datang kemari #koranpagi